Gue lagi dilanda galau nih guys.
Beberapa waktu yang lalu gue dikabari istri gue yang di Lampung bahwasanya secara defacto gue diterima jadi Calon PNS.
Seharusnya ini menjadi kabar gembira bagi gue, tapi rupanya sekaligus juga kabar buruk karena karir gue disalah satu anak perusahaan telekomunikasi pelat merah dibilangan Jakarta yang lagi hot bakal berakhir.
Gue bingung, milih karir di Jakarta tapi jauh dari keluarga, atau pilih jadi PNS, hidup sederhana tentram adem ayem kumpul anak istri?
"Oi,mas.Ngapain ngelamun?"
"Astagpiroloh, ngagetin aja lu Gus..." Replek, tangan gue ngacak-ngacak pizza yang ada didepan meja kerja, biasanya sih gue loncat dari kursi.
"Ngapain ngelamun?" Bagus cowok kalem susah ketawa, mengulangi pertanyaannya tadi.
"Gini Gus, gue boleh curhat gak? Secara lu sohib gue yang paling gue percaya.." Sambil gue pegang tangan Bagus dengan mesranya.
Replek, Bagus narik tangannya jauh-jauh. Temen yang lain pada mesem-mesem gak jelas.
"issh, apaan si mas, pake pegang-pegang tangan segala.Kalo mau curhat,curhat aja, gak pake pegangan tangan juga kalee.." Bagus protes tangannya gue pegang.
Gue lirak lirik kanan kiri, "Lu orang pertama yang gue kasih tau,Gus. Gue diterima PNS.." Suara gue bikin pelan, takut temen-temen jumpalitan heboh kalo denger berita ini. Tak ada jawaban, Bagus bengong. Tapi sejurus kemudian rona mukanya seperti orang mules.
"Bentar ya mas, gue ke WC dulu.."
Bagus tampaknya bener-bener mules denger cerita gue. Doi berlari lari kecil menahan sesuatu. Sayup gue denger suara terbahak-bahak si Bagus dari arah toilet. Temen-temen kantor mulai curiga, mereka memandang gue kagum karena udah berhasil membuat Bagus tertawa hari ini.
So, guys? Menurut lu, gue harus pilih mana, tetep berkarir kerja kantoran atau jadi guru PNS hidup pasti manteng lurus?
Dilema jadi Calon PNS
2.2.09
Mendadak PNS
1.1.09
PNS? Guru? Gak kebayang deh gue menjalani ini semua. Bersyukur? Iya sih..Tapi jadi guru? Ya oloh..
Jadi gini ceritanya...
Ditahun 2009 kira-kira bulan Januari. Hari masih pagi, waktu itu gue masih berleha-leha disebuah kantor dibilangan Rasuna Said jakarta sembari menikmati susu Nona, eh segelas susu cap Nona dan sekerat Roti coklat. Hmm, nikmatnya ngantor diperusahaan besar ya gini, semua fasilitas tersedia, padahal gue masih dilevel cecunguk, gimana dengan level cecangak? *bos - red* hehehe.
Drrtt,drrt.
Gue kegelian. Ada yang garuk-garuk daerah sensitif gue. Biasalah, itu henpon gue memang selalu dalam mode getar dan gue selipin dikantong depan dekat selangkangan, maksudnya biar sekalian...*otak mesum*
"Halo Mi, ada apa yang?" Gue langsung angkat tu hape begitu gue liat nama yang tertera adalah istri gue yang di Lampung sana.
"Pii, papi keterimaa jadi PNSSS..."Setengah teriak istri gue diseberang, sampai pekak telinga reflek gue buang tuh henpon. Buru-buru gue pungut henpon jadul nokiyem.
"Haah? papi kena PMS?" Gue bales teriak. Untung temen-temen kantor yang dateng baru dikit. Kompakan mereka pasang muka jijik ke gue.
"Bukan pi, PNS. Pe..ga..wai Negeri sii..piil..." Terang istri gue dengan volume suara sedikit dipelanin.
"Kok bisa? Emang tesnya kapan?" Gue bertanya angong,otak gue belum nyambung,*keknya minta diupgrade nih otak, lola*
"Inget pi, dulu 'kan papi pernah ikut test PNS, bulan Novemberain, eh November-an, pengumuman sudah ada dikoran pagi ini, dan nama Papi nongol diurutan 200." Penjelasan istri gue sedikit membingungkan.
"Walah, jadi keterima nih Mi?" Istri gue gak menjawab.Tuut.tut..putus.
Mendadak PNS
Gue mulai nyambung. Emang sih gue pernah ikut tes PNS bulan November 2008. Saat itu gue cuma menuruti kemauan istri gue saja untuk ikut test sekali aja. Alasannya kalau keterima, berarti gue diharapkan balik lagi ke Lampung, hehehe.Latar belakangnya, istri gue itu gak mau ikut gue ke Jakarta. Meski dengan iming-iming hidup enak dengan gaji besar, istri gue ngotot bertahan di Lampung. Yah, akhirnya gue yang harus mengalah, tiap minggu gue bolak-balik JKT-LPG untuk menjenguk anak gue dan calon anak gue, hehehe.
"Pi, pemberkasan diharuskan setelah 1 minggu pengumuman. Kalau mau bertahan diperusahaan, ya gak usah dipikirin. Tapi kalau mau jadi PNS, gimana caranya Papi pulang ke Lampung secepatnya...Inget anak istri!" Istri gue berkata panjang lebar, gue dalam dilema.
"Oke, mi. Nanti coba papi pikirin..makasih ya mi dah dikabari.." Gue tutup pembicaraan gue dengan istri tercinta. Inget anak istri sepertinya setengah pemaksaan, berarti gue harus resign dari perusahaan ini secepatnya. Gimana ngomongnya sama booss? Itu yang gue bingungin.
Perusahaan tempat gue kerja gak jelek-jelek amat.Cocoklah dengan latar belakang pendidikan gue yang lulus dari salah satu Institut negeri di Surabaya. Salah satu anak perusahaan yang dimiliki Usaha milik negera dibidang telekomunikasi.
Hal tersebut rupanya tidak memikat istri gue untuk ikut hijrah ke Jakarta. Doi memilih bertahan di Lampung. Crowded, itu alasannya.
Dan kini gue keterima jadi PNS. PNS guru tepatnya. Berbekal AKTA IV yang gue dapet dari kuliah colongan, gue berhasil jadi PNS guru. Kenapa colongan? Karena gue ikut program AKTA IV berbekal keisengan ikut-ikutan teman. Loe tahu, AKTA IV yang gue dapet itu dari UIN Malang, ijasahnya sih gak main-main.
Langganan:
Postingan
(Atom)